The Load of Sine

Diceritakan oleh Maha Guru Ching Hai, Jepang, 1 Oktober 1991 (Asal dalam bahasa Cina)

Suatu waktu, ada seorang wanita yang sangat bangga akan dirinya, yang berpikir bahwa ia tidak pernah melakukan satu dosa  pun dan sangat yakin bahwa ia akan masuk Surga saat dia meninggalkan dunia ini. Suatu pagi, ia sedang menyapu lantai rumahnya dan tanpa disengaja sapunya menimpa seekor kecoa. Kecoa itu mati seketika, dan wanita itu menjadi sangat sedih dan hampir menjadi gila. “Siapa yang akan memikul dosa ini dan mengambilnya dari saya? Bagaimana saya dapat mencuci dosa ini? Selama ini saya tidak pernah melakukan satu dosa pun. Apa yang harus saya lakukan sekarang?” Kemudian dia berlari ke sana kemari dengan membawa kecoa mati di tangannya.

Saat dia melihat seorang wanita penjual ikan, ia berkata,”Oh, perempuan celaka, apa yang akan terjadi pada dirimu jika engkau mati? Setiap hari engkau membunuh begitu banyak makhluk hidup. Saya belum pernah melakukan satu dosa pun sampai pagi hari ini. Hanya hari ini, secara tidak sengaja saya membunuh kecoa ini. Dan bahkan, saya terganggu oleh dosa kecil ini, dimana saya berusaha keras untuk mencuci dosa saya itu. Bayangkan apa yang akan terjadi padamu!”

“Begitukah?” kata penjual ikan itu. “Janganlah terlalu gelisah. Saya telah membunuh banyak ikan, sedangkan engkau belum melakukan dosa apapun juga. Dosa atas kecoa ini tidaklah perlu menguatirkanmu. Berikanlah pada saya. Saya akan menaruhnya dalam keranjang yang penuh dengan ikan ini. Tambahan kecoa kecil dalam keranjang ikan ini tidaklah akan membuat perbedaan apapun. Saya akan menanggung dosanya bagimu! Engkau akan terbebaskan dari dosa seketika ini juga. Dalam keranjang saya, telah ada begitu banyak ikan, maka tambahan satu kecoa tidaklah akan menguatirkan saya. Engkau tidak perlu khawatir!”

Tentu saja, “wanita baik” itu menjadi senang dan memberikan kecoa mati itu kepada si penjual ikan, yang kemudian menempatkannya ke dalam keranjang ikan. “Wanita baik” itu kemudian merasa bebas dari perasaan bersalah dan merasa tenang! Di lain pihak, penjual ikan itu tidak peduli sama sekali akan tindakan baik hati yang baru saja ia lakukan. Dia langsung pergi.

Tetapi akankah Surga mengadili mereka dengan cara demikian? Kemudian hari, kedua wanita itu meninggal pada hari yang sama. Malaikat-malaikat datang untuk mengantar penjual ikan itu ke Surga sementara Malaikat Kematian datang untuk membawa “wanita baik” itu ke neraka. Wanita itu menjadi bingung dan kemudian mengamuk. Dia bertanya  pada Malaikat Kematian, “Apa? Anda pasti telah melakukan kesalahan. Saya bukanlah penjual ikan yang seharusnya Anda bawa ke neraka. Saya adalah wanita yang baik yang tidak pernah  melakukan dosa apapun juga. Mengapa Anda akan membawa saya ke neraka?”

“Wanita baik,” jawab Malaikat Kematian, “kami tidaklah membuat kesalahan. Anda ditunggu di neraka, dimana nama Anda telah terdaftar. Cepat ikuti saya. Penjual ikan itu akan pergi ke Surga.”

“Tetapi kenapa?” wanita itu bertanya. Malaikat Kematian kemudian menjelaskan padanya, “Itu adalah tugas dari penjual ikan untuk menjual dan membunuh ikan. Dia tidak membunuhnya karena  kedengkian, tetapi sebagai suatu tugas. Pada saat  yang sama, ia memuja dan menyembah Tuhan setiap hari, dan melakukan semua tindakannya, baik itu tindakan yang baik atau buruk, sebagai persembahan pada Tuhan, sebagai alat dari Tuhan. Karena itu ia masuk Surga.

Sebaliknya, Anda berpikir, ‘Saya telah membunuh seekor kecoa.’ Anda memiliki “keakuan” dalam pikiran Anda. Setiap kali Anda melakukan perbuatan amal dan perbuatan baik, itu semua hanya memperbesar keakuan dan keangkuhan Anda. Anda bukanlah seorang yang benar-benar pengasih! Dalam keangkuhan Anda, Anda berpikir meremehkan praktisi spiritual yang sejati dan rendah hati. Anda tidak pernah berpikir tentang Tuhan sama sekali. Dalam setiap tindakan yang Anda perbuat, Anda berpikir bahwa Andalah yang melakukannya, baik itu yang baik maupun yang buruk. Anda tidak pernah memberikan satu pun perhatian pada Tuhan di atas, Anda tidak memiliki rasa hormat padaNya.”

“Anda sombong dan sangat egois. Apakah Anda pikir Anda berhak tinggal di Surga? Anda bahkan berusaha keras untuk memindahkan dosa Anda saat membunuh kecoa kepada orang lain. Penjual ikan itu sebaliknya, dengan tidak mementingkan diri sendiri bersedia menerima dosa Anda. Hanya untuk membebaskan Anda dari perasaan bersalah dan membuat Anda merasa bebas dari kekhawatiran, dia mengambil dosa yang Anda buat. Dia adalah seorang yang sangat baik sehingga secara alami ia berhak untuk pergi ke Surga. Sekarang, bergegaslah dan pergi ke neraka bersama kami. Jangan menunda-nunda lagi!”

Ini adalah cerita yang bagus. Dan sangat benar! Saya tidak bermaksud untuk mendorong dan menyuruh kalian untuk pergi menjual ikan atau daging. Tetapi, jika seseorang dapat menjadi sebaik wanita penjual ikan itu, sangat berbakti pada Tuhan dan bersedia untuk menanggung karma dari orang lain, maka orang itu sesungguhnya serupa dengan orang kudus. Ini adalah kenyataan. Saya telah mengatakan berulang kali bahwa apa yang kita lakukan merupakan pengaturan Tuhan. Sudah cukup baik jika kita dapat benar-benar mengerti kehidupan sampai pada tingkat ini. Tetapi, banyak orang yang tidak mengerti, dan berpikir bahwa merekalah pelakunya. Itulah mengapa mereka membuat kekacauan dan harus menanggung karma.

Saat kita menganggap diri kita hanya sebagai sebuah alat yang telah diatur oleh Tuhan, maka itu adalah baik. Tetapi, hanya sedikit orang yang dapat melakukan hal ini. Maka dari itu, sebaiknya kita tidaklah melakukan dosa apapun juga. Jika kita melakukan, hanyalah benar jika kita rendah hati dan bertobat. Sangat sedikit orang yang dapat melakukan perbuatan tanpa memikirkan diri sendiri, makanya sangatlah sulit. Banyak orang yang merasa hebat saat mereka melakukan sedikit tindakan baik, dan mengumbar kemana-mana kebajikan ini sebagai sesuatu yang dibanggakan. Perbuatan ini tidaklah dilakukan dengan kasih, tetapi sebagai hasil dari “keakuan” untuk mendapatkan pujian dari orang lain dan menunjukkan pada orang lain betapa baiknya mereka. Mereka sama sekali tidaklah memiliki kasih dalam hati maka mereka tidak mengerti akan diri mereka sendiri.

Jika kita dapat melakukan perbuatan-perbuatan baik tanpa berpikir bahwa itu adalah perbuatan baik, dan tanpa berpikir banyak bahwa kita melakukan perbuatan itu untuk diri kita sendiri, maka kita benar-benar berlaku adil pada diri kita sendiri. Adalah baik jika kalian tidak memandang rendah pada orang lain yang tidak melakukan perbuatan bajik. Sangat sedikit orang  yang dapat melakukan itu. Maka kadang saya berkata, “Melakukan perbuatan  amal bukanlah satu-satunya hal yang baik, saat latihan spiritual kita baik, segala yang kita perbuat menjadi baik.” Kalian dapat melakukan perbuatan amal tanpa berpikir bahwa kalian melakukan perbuatan amal. Kalian tidak berpikir bahwa kalian sangatlah hebat. Kalian akan cepat-cepat menyembunyikan diri dan sangat takut jika mendapat pujian. Kalian tidak berpikir bahwa itu adalah jasa kalian sendiri; kalian sama sekali tidak berpikir bahwa kalian mendapatkan pahala! Kita dilahirkan tanpa sehelai benang pun pada badan kita, maka bagaimana mungkin kita bisa menuntut pahala apapun? Bahkan uang hanyalah berputar di antara kita, karena semua itu merupakan milik Tuhan. Tidak ada satu pun yang merupakan milik kita! Maka bagaimana kita bisa berbangga akan apapun juga?