Dr. Unwin memulai
kajiannya dengan suatu dasar pemikiran yang sama sebagaimana digunakan
dalam menentukan hasil lemparan koin, dengan memberikan kemungkinan
adanya Yang Maha Kuasa sebesar 50/50. Selanjutnya, dia menggunakan
suatu rumusan untuk menentukan lebih lanjut suatu kemungkinan hasil
dengan mempertimbangkan faktor-faktor positif dan negatif berikut
yang dinilai sebagai “mendukung” dan “menentang” dasar pemikirannya itu:
1. Pengakuan atas
sifat-sifat kebajikan (The recognition of goodness)
2. Keberadaan atas moral-moral kejahatan (The existence of moral evil)
3. Keberadan atas sifat-sifat alami kejahatan (The existence of natural
evil)
4. Keajaiban “di dalam” alam raya (Miracles "within" nature)
5. Keajaiban “di luar” alam raya (Miracles "outside of" nature)
6. Pengalaman yang berhubungan dengan agama (Religious
experiences)
Setiap faktor-faktor
tersebut diberikan nilai angka tertentu dan diterapkan pada angka awal
lima puluh persen. Perhitungan yang mempertimbangkan bukti dari dua
sisi tersebut menghasilkan kemungkinan apakah Tuhan itu ada atau
tidak ada.
Meskipun bukti-bukti
yang ada cukup meyakinkan karena mencerminkan hasil pemikiran dengan
tingkat kepastian yang jelas, Dr. Unwin juga ingin memasukkan
ketidakpastian dalam perhitungannya tersebut. Akibat dari
ketidakpastian dalam hidup kita sebagaimana yang diketahui juga
bertambah besar apabila kita merasa bahwa kita tidak dapat memperoleh
bukti-bukti yang cukup, atau apabila kita tidak dapat menentukan makna
pada situasi tertentu dengan mengandalkan akal budi saja.
Ketidakpastian yang terjadi berkali-kali akan memacu kita untuk mencari
cara yang berbeda guna lebih bisa mempercayai. Karena itu, Dr. Unwin
mengatakan bahwa ketidakpastian dapat “membuka celah bagi apa yang kita
namakan iman.”
Iman yang masuk
dalam “celah” ini merupakan suatu bagian dari persamaan yang
lebih lengkap untuk memperhitungkan kemungkinan akan keberadaan Tuhan:
Percaya pada Tuhan =
Kemungkinan keberadaan Tuhan + Iman pada Tuhan
Percaya pada Tuhan =
Kemungkinan keberadaan Tuhan + Iman pada Tuhan.
Kajian ini
menggambarkan beberapa aspek yang sangat mencerahkan. Pertama, dengan
menggunakan suatu rumusan ilmiah dan menyusun pertanyaan penelitian
yang lebih mengarah pada “apakah Tuhan” ada, daripada “Tuhan siapakah”
yang ada, sehingga pembahasan tentang keberadaan Tuhan dapat
berlangsung tanpa harus memperhatikan tentang kepercayaan agama yang
berbeda-beda. Keluasan posisi ini menggaungkan beberapa
pernyataan Guru bahwa seseorang tidak harus meninggalkan agamanya untuk
berlatih Metode Quan Yin.
Salah satu unsur
penyatuan dari hasil penelitian Dr. Unwin adalah penggunaan bahasa
sekuler dalam membahas topik rohani. Ini sebenarnya merupakan salah
satu tujuan dari kajian tersebut, yaitu membantu menjembatani apa yang
dipandang sebagai pemisah antara ilmu pengetahuan dan agama, yang
tercermin dalam konsep “pemisahan gereja dan negara”, yang mana
menekankan tidak adanya tumpang tindih antara kegiatan rohani seperti
sembahyang dan kegiatan umum seperti belajar. Hasil kajian seperti yang
dipaparkan oleh Dr. Unwin yang membahas Tuhan dalam terminologi
“negara” daripada terminologi “gereja”, dapat membuka pintu untuk
dialog baru bagi para akademi, agama terorganisasi dan sektor umum.
Terakhir dan mungkin
yang terpenting adalah hasil pengujian yang bersifat terbuka, yang mana
bersifat praktikal namun juga tidak menekankan suatu kesimpulan yang
tentunya bisa merupakan suatu cara tanpa ikatan bagi orang untuk
merenungkan hubungan personal mereka dengan Tuhan. Bagi mereka yang
tidak mengenali Guru hidup dan bisa saja bersifat ragu-ragu atau bahkan
merasa ragu ketika dihadapkan pada pertanyaan akan keberadaan Tuhan
maka kajian ini akan mendorong perluasan pandangan dan mengungkapkan
pesan yang tepat buat permulaan Zaman Keemasan.
Untuk memperoleh artikel tersebut di atas dari The Guardian, silakan
berkunjung ke:
http://education.guardian.co.uk/higher/news/story/0,9830,1164892,00.html
*Dr. Stephen Unwin menerima gelar
doktornya dalam bidang fisika teoretis dari University of Manchester di
Inggris. Ia telah memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam bidang
penelitian gravitasi kuantum sebelum ditunjuk sebagai atase teknik di
Departemen Energi Amerika Serikat. Sekarang, sebagai konsultan analisa
risiko, dia lebih banyak melakukan evaluasi dan memberikan saran pada
berbagai organisasi tentang bagaimana menghindari bencana seperti
luapan bahan kimia dan kegagalan pusat pembangkit tenaga nuklir.