Baru-baru ini terdapat sebuah artikel di koran Inggris “The Guardian”  yang memperbincangkan penelitian yang dilakukan oleh seorang ahli fisika teoretis, Dr. Stephen Unwin *, terhadap pertanyaan tentang keberadaan Tuhan melalui penerapan teori kemungkinan.

Oleh Grup Berita Ohio (Asal dalam bahasa Inggris)

Dr. Unwin memulai kajiannya dengan suatu dasar pemikiran yang sama sebagaimana digunakan dalam menentukan hasil lemparan koin, dengan memberikan kemungkinan adanya Yang Maha Kuasa sebesar 50/50. Selanjutnya, dia menggunakan suatu rumusan untuk menentukan lebih lanjut suatu kemungkinan hasil dengan  mempertimbangkan faktor-faktor positif dan negatif berikut yang dinilai sebagai “mendukung” dan “menentang” dasar pemikirannya itu:

1. Pengakuan atas sifat-sifat  kebajikan (The recognition of goodness)
2. Keberadaan atas moral-moral kejahatan (The existence of moral evil)
3. Keberadan atas sifat-sifat alami kejahatan (The existence of natural evil)
4. Keajaiban “di dalam” alam raya (Miracles "within" nature)
5. Keajaiban “di luar” alam raya (Miracles "outside of" nature)
6. Pengalaman yang  berhubungan dengan  agama (Religious experiences)

Setiap faktor-faktor tersebut diberikan nilai angka tertentu dan diterapkan pada angka awal lima puluh persen. Perhitungan yang mempertimbangkan bukti dari dua sisi tersebut menghasilkan kemungkinan  apakah Tuhan itu ada atau tidak ada.

Meskipun bukti-bukti yang ada cukup meyakinkan karena mencerminkan hasil pemikiran dengan tingkat kepastian yang jelas, Dr. Unwin juga ingin memasukkan ketidakpastian dalam perhitungannya tersebut. Akibat dari ketidakpastian dalam hidup kita sebagaimana yang diketahui juga bertambah besar apabila kita merasa bahwa kita tidak dapat memperoleh bukti-bukti yang cukup, atau apabila kita tidak dapat menentukan makna pada  situasi tertentu dengan mengandalkan akal budi saja. Ketidakpastian yang terjadi berkali-kali akan memacu kita untuk mencari cara yang berbeda guna lebih bisa mempercayai. Karena itu, Dr. Unwin mengatakan bahwa ketidakpastian dapat “membuka celah bagi apa yang kita namakan iman.”

Iman yang masuk dalam “celah”  ini merupakan suatu bagian dari persamaan yang lebih lengkap untuk memperhitungkan kemungkinan akan keberadaan Tuhan:

Percaya pada Tuhan = Kemungkinan keberadaan Tuhan + Iman pada Tuhan

Percaya pada Tuhan = Kemungkinan keberadaan Tuhan + Iman pada Tuhan.

Kajian ini menggambarkan beberapa aspek yang sangat mencerahkan. Pertama, dengan menggunakan suatu rumusan ilmiah dan menyusun pertanyaan penelitian yang lebih mengarah pada “apakah Tuhan” ada, daripada “Tuhan siapakah” yang ada, sehingga pembahasan tentang keberadaan Tuhan dapat berlangsung tanpa harus memperhatikan tentang kepercayaan agama yang berbeda-beda. Keluasan posisi ini menggaungkan  beberapa pernyataan Guru bahwa seseorang tidak harus meninggalkan agamanya untuk berlatih Metode Quan Yin.

Salah satu unsur penyatuan dari hasil penelitian Dr. Unwin adalah penggunaan bahasa sekuler dalam membahas topik rohani. Ini sebenarnya merupakan salah satu tujuan dari kajian tersebut, yaitu membantu menjembatani apa yang dipandang sebagai pemisah antara ilmu pengetahuan dan agama, yang tercermin dalam konsep “pemisahan gereja dan negara”, yang mana menekankan tidak adanya tumpang tindih antara kegiatan rohani seperti sembahyang dan kegiatan umum seperti belajar. Hasil kajian seperti yang dipaparkan oleh Dr. Unwin yang membahas Tuhan dalam terminologi “negara” daripada terminologi “gereja”, dapat membuka pintu untuk dialog baru bagi para akademi, agama terorganisasi dan sektor umum.

Terakhir dan mungkin yang terpenting adalah hasil pengujian yang bersifat terbuka, yang mana bersifat praktikal namun juga tidak menekankan suatu kesimpulan yang tentunya bisa merupakan suatu cara tanpa ikatan bagi orang untuk merenungkan hubungan personal mereka dengan Tuhan. Bagi mereka yang tidak mengenali Guru hidup dan bisa saja bersifat ragu-ragu atau bahkan merasa ragu ketika dihadapkan pada pertanyaan akan keberadaan Tuhan maka kajian ini akan mendorong perluasan pandangan dan mengungkapkan pesan yang tepat buat permulaan Zaman Keemasan.



Untuk memperoleh artikel tersebut di atas dari The Guardian, silakan berkunjung ke:
http://education.guardian.co.uk/higher/news/story/0,9830,1164892,00.html

*Dr. Stephen Unwin menerima gelar doktornya dalam bidang fisika teoretis dari University of Manchester di Inggris. Ia telah memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam bidang penelitian gravitasi kuantum sebelum ditunjuk sebagai atase teknik di Departemen Energi Amerika Serikat. Sekarang, sebagai konsultan analisa risiko, dia lebih banyak melakukan evaluasi dan memberikan saran pada berbagai organisasi tentang bagaimana menghindari bencana seperti luapan bahan kimia dan kegagalan pusat pembangkit tenaga nuklir.