Karma
Semua agama besar dan baik berbicara tentang hukum karma. Jika
tidak, mengapa semuanya berkhotbah dan menyuruh kita untuk menjadi baik bila
perbuatan kita tidak ada akibatnya? Karena itu hukum karma dan kelahiran kembali
selalu disinggung di dalam semua agama besar. Kadang itu diterangkan dengan
lebih jelas, suatu saat ia diimplikasikan. Hukum-hukum kita diciptakan untuk
melindungi tata hidup masyarakat, dan juga ada hukum universal yang menjaga tata
hidup dan kebaikan semua makhluk hidup di alam semesta. Kita bukan hanya warga
suatu negara, tetapi juga warga alam semesta dan tiap negara ibarat sebuah
rumah. Sebab itu kita juga harus mengetahui hukum-hukum universal dan jika kita
menghargainya, hukum tersebut akan melindungi kita dari kehidupan di
tingkat-tingkat yang lebih rendah.
Hukum manusia dibuat oleh manusia. Tetapi jika kita melihat dari
sudut pandang transendental, kita melihat bahwa mereka juga diatur oleh sejenis
kekuatan tak tampak yang lain. Kekuatan tak tampak ini dalam bahasa Sansekerta
disebut “karma” yang artinya hukum sebab dan akibat. Ia disinggung dalam Alkitab
sebagai Apa yang kau tabur, itulah yang kau tuai (Galatia 6:7).
Ada karma baik dan karma buruk, tetapi keduanya tetap berarti
keterikatan di Bumi. Setelah inisiasi, karma dari kehidupan-kehidupan lampau
akan dihapus, tetapi Guru tidak menyentuh karma dari kehidupan sekarang. Jika
tidak, kalian akan segera meninggal. Kita harus tinggal dulu di sini sejenak
untuk ikut memberkahi dunia dan menolong teman-teman kita. Setelah itu, kita
dapat pergi ke Surga dan kembali lagi kapan pun, jika itu yang kita inginkan.
Karma adalah kekuatan yang tak tampak, sangat adil, dan kuat. Apa yang telah
kita perbuat akan kembali kepada kita: Ini adalah hukum sebab dan akibat.
Kita punya karma karena kita memiliki komputer ini, pikiran kita,
otak yang dimaksudkan untuk merekam setiap pengalaman di dunia fisik ini. Karena
itu kita punya karma. Baik atau buruk, kita mencatatnya di sini. Itulah yang
kita sebut karma. Apa itu karma? Hanyalah pengalaman-pengalaman, baik atau
buruk, reaksi-reaksi kita, pengalaman-pengalaman belajar kita di banyak
kehidupan. Dan karena kita memiliki sesuatu yang disebut hati nurani, kita tahu
bahwa kita harus baik, tetapi kadang kala kita berbuat buruk. Hal-hal yang buruk
membebani kita, seperti terlalu banyak sampah atau koper. Karena hukum
gravitasi, ia menarik kita turun dan mempersulit kita mendaki gunung. Karena
banyak disiplin moral di dunia, banyak aturan, banyak kebiasaan di berbagai
negara yang berbeda mengungkung kita dengan apa yang disebut konsep tentang baik
dan buruk, bersalah dan tidak berdosa. Sebab itu, kita berhubungan dengan
orang-orang di dunia, dan kita mempunyai pengalaman-pengalaman baik dan buruk,
berdosa dan tidak, bergantung kepada kebiasaan-kebiasaan setempat, dan hukum
dari suatu negara. Mengertikah? Itu menjadi kebiasaan bahwa kita berpikir
seperti itu, bahwa jika kita berbuat ini, kita berdosa, kita berbuat itu, kita
orang yang jahat, dsb. Dan semuanya terekam di sini. Itu yang membuat kita
bertumimbal lahir dan membuat kita terikat di dunia fisik ini atau dunia yang
sedikit lebih tinggi. Kita tidak cukup bebas, tidak cukup ringan untuk mengapung
di atas permukaan. Ini karena semua konsep dan semua pandangan salah ini.
P. Guru, Anda berbicara tentang apa yang Anda sebut
keberuntungan. Sebagian orang menggunakan sebutan nasib, meskipun keberuntungan
terdengar lebih spiritual. Bagaimana tentang kehendak bebas?
G. Itu adalah pilihan sebelum kelahiran fisik kita dan
selama kehidupan fisik kita. Tetapi setelah mati, kita tidak dapat memilih
kecuali jika kita punya jasa-jasa baik yang kita kumpulkan pada kehidupan
sebelum mati tersebut. Contohnya, sebelum kita dilahirkan di dunia ini, kita
punya pilihan untuk menjadi suatu pribadi, tetapi ketika kita datang ke dunia,
kita berubah tergantung situasi dan kehendak masyarakat. Lalu kita kehilangan
kehendak bebas kita sekalian. Kita pikir kita bebas, tetapi tidak.
P. Jadi, kehendak bebas yang sejati, pilihan sejati, pilihan
sesungguhnya ada sebelum kita lahir. Lalu kita tertutup tirai atau maya, dan
kita tidak ingat perjanjiannya. Akankah Anda menyebut itu sebagai kontrak?
G. Benar, perjanjiannya dengan Tuhan, dengan hati nurani
kita.
P. Guru sebelumnya berbicara tentang karma, apakah kita punya
kendali tentang keinginan kita untuk menjadi apa di kehidupan mendatang, atau
akankah seseorang memberitahu kita tentang menjadi apa kita kelak?
G. Tidak seorang pun dapat memberitahu Anda akan menjadi
apa nanti, karena ini adalah perbuatan Anda sendiri, yang buahnya akan
menentukan menjadi apa Anda di kehidupan mendatang. Jika Anda ingin mengatur
kelahiran Anda yang akan datang, Anda harus punya kebijaksanaan untuk menentukan
jalan Anda sendiri dan mengembalikan kekuatan terbesar Anda sendiri. Saat itu
Anda bisa mengendalikan. Tetapi saat ini Anda terlalu lemah.
P. Dapatkah kita mengurangi karma kita dengan berdoa?
G. Ya, dapat, jika kita cukup bersungguh hati. Karena
kesungguhan hati dan permohonan doa yang khusuk adalah sejenis meditasi. Dalam
keadaan perasaan yang meditatif, kita dapat mencapai kedalaman kemuliaan kita,
kelimpahan kita, gudang berkah kita, dan itu mempunyai efek, yakni membersihkan.
Hanya jika kita benar-benar bersungguh hati dan secara mendalam berharap
pengampunan, maka doa akan menolong.
P. Dapatkah kita membagi-bagi karma kita dalam beberapa
kehidupan, jadi kita menderita sedikit saja di setiap kehidupan?
G. Ya, Anda dapat berbuat itu, tetapi Anda akan lebih
menderita. Saya beritahu mengapa. Karena di tiap kehidupan kita sudah punya
karma, dan jika Anda menambah karma kehidupan ini lagi, Anda hanya lebih
menderita. Tiap kehidupan, Anda sudah punya cukup karma untuk dijalani, untuk
menderita, dan bila Anda menambahkan karma kehidupan ini, saya pikir Anda akan
lebih menderita, semakin bertambah dan bukannya berkurang.
P. Apakah dosa dari si ayah akan menurun pada anaknya?
G. Sampai taraf tertentu, ya. Kita sebut ini sebagai karma
kolektif. Itu berarti pembayaran kolektif dalam suatu keluarga. Di atas itu,
setiap orang punya hasil kolektif yang buruk karena perbuatan buruk ataupun
hasil kebaikan dari kebajikan. Karma berarti keduanya, perbuatan baik dan buruk,
bukan hanya yang buruk. Banyak orang menggunakannya dalam arti yang negatif.
P. Guru yang terkasih, harap jelaskan, karma macam apa yang
menghasilkan diktator yang menyebabkan perang yang membunuh jutaan orang, dan
membuat jutaan lainnya menderita?
G. Itu adalah karma kolektif dari umat manusia, yang
sebagaimana saya jelaskan sebelumnya, adalah hasil sampingan dari hubungan antar
manusia dengan makhluk lain di dunia ini atau dunia-dunia lain. Dan hasil
samping semacam itu menjadi suatu energi yang sangat kuat yang menggantung di
atmosfer Bumi. Dan ketika sudah terlalu pekat, ia harus diwujudkan dalam bentuk
yang terlihat, seperti seorang diktator yang sangat berkuasa yang membunuh
jutaan orang, dan sebagainya.
Maka dari itu, orang-orang itu sebetulnya tidak sepenuhnya layak
dipersalahkan. Tetapi, diri kita sendiri yang harus dipersalahkan. Jika setiap
orang dari kita menjalani hidup bajik, mentaati Sila-sila, dan berhenti membunuh
dalam bentuk apapun, termasuk pembunuhan tidak langsung dengan menjalankan pola
makan vegetarian, maka dunia ini tidak akan pernah melahirkan diktator semacam
itu sejak awal. Pengalaman mengerikan ini adalah untuk mengingatkan kita tentang
jalan kebajikan, dan jika kita belum cukup terbangunkan, maka hal semacam ini
akan terus berulang untuk mengingatkan kita lagi hingga seluruh umat manusia
terbangunkan.
P. Dapatkah Anda membahas karma, bagaimana kita membayar hutang
karma masa lampau, dan apa hubungan ini dengan Pencerahan?
G. Karma adalah istilah Sansekerta untuk hukum Apa yang kau
tabur, itulah yang kau tuai, yaitu hukum untuk alam semesta yang lebih rendah.
Ketika seorang Guru menginisiasi Anda, Dia akan menarik Anda lebih tinggi lagi
ke atas. Karena itu, karma di bawah dapat dibakar dan tak mempengaruhi Anda. Dia
hanya meninggalkan sedikit agar Anda dapat meneruskan kehidupan ini, yang juga
sudah diperlancar dan dilumasi dengan kekuatan Guru. Setelah inisiasi, Anda
tidak punya lagi karma simpanan, maka Anda tidak perlu lahir kembali jika Anda
tidak ingin. Jika Anda ingin lahir kembali, itu mudah sekali. Kita dapat
menciptakan karma atau kita dapat meminjam dari banyak makhluk hidup untuk turun
ke bumi. Inisiasi adalah penghancuran semua karma di masa lampau, tidak
meninggalkan kesempatan bagi makhluk hidup untuk kembali lagi di masa depan.
|





 |